Etika Berinteraksi dan Berkomunikasi di Dunia Digital: Harus Jelas dan Santun

  • Bagikan
X

Duniagital.com, Madiun - Setiap orang memiliki perbedaan kultural dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan banyak pihak dalam ruang digital. Interaksi tersebut dapat menciptakan standar baru mengenai etika. Sementara itu, etika dinilai dari cara berkomunikasi dan berinteraksi yang dilakukan.

Perbedaan persepsi atau arti bisa terjadi ketika berkomunikasi di dunia nyata. Misalnya kata atos, dalam Bahasa Sunda berarti sudah, sedangkan pada Bahasa Jawa memiliki arti keras.

Relawan Mafindo, Founder of Erfa Handmade, CEO PT Erfa Karya Mandiri, Kristien Mey Triyana, ST menyebutkan, kejadian tersebut merupakan bentuk kegagalan komunikasi di dunia nyata. Fenomena ini bisa juga terjadi di dunia digital.

“Sehingga berkomunikasilah dengan jelas dan santun di dunia digital. Di dunia offline saja kisa bisa salah, apalagi di dunia digital,” kata Kristien saat webinar Makin Cakap Digital 2022 untuk kelompok masyarakat di wilayah Kabupaten Madiun, Jawa Timur, pada Jumat (29/7/2022).

Sekarang ini tingkat kesopanan netizen Indonesia mendapat sorotan. Dalam laporan Digital Civility Index (DCI) pada 2020, Microsoft mengumumkan pengguna internet Indonesia menempati posisi terbawah se-Asia  Tenggara, alias paling tidak sopan di wilayah tersebut.

Sehingga etika bermedia digital netizen Indonesia perlu ditingkatkan. Setiap individu harus selalu membagikan konten positif di media sosialnya. Sehingga harapannya orang di sekitar terdorong melakukan hal serupa.

Sumber: m.jpnn.com

Artikel Asli

Penting:

Apabila terdapat kesalahan informasi dalam berita ini, silahkan kirim koreksi/laporan Anda ke alamat email kami di [email protected].
  • Bagikan